WORKSHOP diadakan di Aston Hotel serta Pantai
Festival Ancol pada 6 Agustus 2010. Para juri
secara bergantian memandu sesi mereka dengan
gaya yang santai dan hangat sehingga para
pemenang CHC ini merasa nyaman dan senang
hati mengikuti setiap sesi.
Mengolah Kreativitas Menulis
Helvy Tiana Rossa memulai workshop menulis
dengan memberikan sebuah uji kreativitas pada
anak-anak ini. Ia ingin mereka menulis ulang
cerita populer Malin Kundang dan Cinderella.
Namun Helvy menginginkan para pemenang CHC
untuk mengkreasikan alternatif alur lain sesuai
imajinasi mereka untuk kedua cerita tersebut.
”Pada dasarnya, tingkat ide tulisan kalian itu
sudah tinggi. Apalagi dilihat dari segi usia,
tentunya kemampuan kalian menulis itu
sudah sangat baik. Namun dalam materi ini,
Kakak hanya ingin mengasah lebih dalam lagi
kreativitas kalian agar kalian mempelajari hasil
dari tulisan-tulisan kalian,” jelas Helvy.
Selama workshop ini, Helvy banyak memberikan
tips seputar tehnik menulis dan wawasan berguna
seputar mengolah kreativitas menulis.
”Pada intinya, teknik menulis tidak perlu
berporos pada teori. Catat saja semua hal yang
menarik di sekitar kalian lalu kembangkan.
Penting untuk kalian ketahui, bahwa membaca
bukan hanya sekedar membaca, tapi belajarlah
dari apa yang kalian baca,” ujar Helvy seraya
menutup workshopnya.
Berani Berpikir ”Out of the Box”
”Apa itu kreatif?” tanya Shahnaz Haque saat
membuka workshopnya. Shahnaz ditemani sang
suami, Gilang Ramadhan membawakan materi
seputar motivasi dan kreativitas.
”Berpikir berbeda dari yang biasanya!“ Rossi
Risky Bestari,pemenang kedua dari tingkat SMP
menjawab dengan lantang.
”Ingat kata Kakak kemarin, bahwa Kakak kagum
dengan keberanian kalian yang dapat berpikir
Out of the Box. Artinya kalian berani berbeda, itu
yang dinamakan kreatif!“ sambung Shahnaz.
Gilang lalu mempergakan sebuah praktek berpikir
out of the box. Gilang membawa sebuah galon air
kosong dan mulai memukul galon tersebut.
”Ayo kalian tebak, galon kosong ini bisa
mengeluarkan berapa jenis bunyi?“ tanya Gilang
pada anak-anak.
Gilang lalu memukul galon kosong tersebut di
berbagai sisi dan menunjukkan pada anakanak
ini bahwa di tiap sisi berbeda, akan
mengeluarkan bunyi yang berbeda pula. Ilustrasi
ini mengajarkan agar mereka tak perlu takut
untuk menciptakan hal yang berbeda dalam
menggali kreativitas kala mengukir sebuah
karya.
Shahnaz dan Gilang menekankan bahwa dalam
menciptakan suatu kreativitas tidak perlu
menilai diri dari sudut pandang mampu atau
tidak. Artinya, bagaimanapun latar belakang
kehidupan, kreativitas adalah satu sisi lain dari
kehidupan yang patut dikembangkan.
Sutri Agus, siswa SMK Lagoa Jakarta Utara yang
menduduki juara kedua tingkat SMA menjadi sebuah contoh nyata bahwa keterbatasan tak
dapat menghalangi sebuah kreativitas. Agus yang
tinggal di pinggiran kota bersama orang tuanya
yang merupakan seorang buruh dan pembantu
rumah tangga menunjukkan bahwa latar
belakang ekonomi yang serba kekurangan tak
membuatnya putus asa.Seluruh juri, termasuk
Shahnaz dan Gilang kagum terhadap dorongan
diri yang dimiliki Agus.
”Anak seperti Agus ini, sudah tidak peduli
dengan anggapan orang mengenai dirinya.Yang
Ia pikirkan hanya bagaimana caranya untuk
merubah hidup dirinya dan orang tuanya menjadi
lebih baik. Percaya atau tidak, semakin hidup
kita susah, kita jadi semakin kreatif dan itu telah
dibuktikan oleh Agus!“ ungkap Shahnaz.
Di akhir sesi, Shahnaz meminta anak-anak untuk
menuliskan di selembar kertas apa kegiatan yang
dapat menunjang kreativitas menurut mereka.
”Menulis, bernyanyi, menggambar, memasak,
bermain” tulis Eva Septiana Simorangkir
(pemenang kedua tingkat SD) dan Sherina
Salsabila (pemenang ketiga tingkat SD). Mereka berdua mendapatkan kenang-kenangan spesial
dari Gilang dan Shahnaz, sebuah stick drum
yang telah ditandatangani oleh Gilang. Selain
itu, Shahnaz dan Gilang juga memberikan tanda
tangan pada setiap kaos yang dikenakan oleh 12
pemenang lomba mengarang CHC 2010.
Didaulat Menjadi Wartawan
Gol A Gong memberikan materi seputar teknik
menulis yang sedikit berbeda dari Helvy Tiana
Rossa. Ia mengajak para pemenang untuk keluar
menghirup udara segar di sekitar Pantai Festival
Ancol. Belajar gaya outdoor ini membuat anakanak
semakin bersemangat menyimak materi
Gol A Gong yang berbagi pengalamannya semasa
masih menjadi wartawan.
”Ada lima hal yang harus menjadi pedoman
wartawan, yaitu konsep penulisan 5W+1H,”
jelas Gol A Gong. Ia lalu meminta anakanak
untuk melakukan pekerjaan layaknya
seorang wartawan dengan cara mewawancarai
orang-orang yang bekerja di sekitar
Pantai Festival Ancol dengan konsep 5 W
(Who,What,Where,When,Why) dan 1 H (How).
Para wartawan muda ini mewawancarai berbagai
macam orang dengan berbagai profesi seperti
penjual kaca mata keliling, tukang sapu, pekerja
restoran hingga pedagang kaki lima. Melalui
simulasi ini, Gol A Gong ingin mengajarkan
bahwa sebagai seorang penulis harus punya jiwa
layaknya seorang wartawan yang tak pernah
luput dari detail 5W 1H dalam tulisannya.
Bersenang-Senang Kemudian...
Setelah melewati berbagai aktivitas selama
dua hari, Tupperware Indonesia mengajak ke-
12 pemenang CHC 2010 ini untuk menikmati
waktu bebas di arena bermain Dunia Fantasi
(Dufan) Ancol. Bersama para orang tua dan guru
pendamping, anak-anak ini menikmati waktu
bermain yang fun dan menghibur.Kegiatan
ini sekaligus menutup tour mereka bersama
Tupperware dalam CHC 2010.
Sumber: Tuppernews